Kesalahan Umum dalam Impor Barang dari China ke Indonesia yang Sering Merugikan Bisnis

Impor barang dari China ke Indonesia menawarkan peluang besar bagi pelaku usaha untuk mendapatkan produk dengan harga kompetitif dan variasi yang luas. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit importir terutama pemula dan UMKM yang justru mengalami kerugian karena melakukan kesalahan-kesalahan mendasar. 

Kesalahan ini sering kali bukan karena niat buruk, melainkan karena kurangnya pemahaman teknis, pengalaman, dan perencanaan yang matang. Tanpa pengelolaan yang tepat, impor yang seharusnya menjadi strategi pertumbuhan justru berubah menjadi beban bisnis.

1. Menganggap Proses Impor Lebih Sederhana dari Kenyataannya

Salah satu kesalahan paling umum adalah menganggap impor sebagai proses yang mudah dan bisa diselesaikan sendiri tanpa persiapan mendalam. Banyak pelaku usaha hanya fokus pada harga barang dan supplier, tanpa memahami bahwa impor melibatkan rangkaian proses panjang, mulai dari administrasi, logistik internasional, hingga kepabeanan.

Pandangan ini sering membuat importir tidak siap menghadapi kendala di lapangan. Akibatnya, ketika terjadi masalah, seperti dokumen tidak lengkap atau barang tertahan yang membuat bingung dan kehilangan kendali atas proses impor.

2. Tidak Melakukan Verifikasi Supplier Secara Menyeluruh

Kesalahan berikutnya adalah terlalu cepat percaya pada supplier di China tanpa proses verifikasi yang memadai. Perbedaan bahasa, budaya bisnis, dan jarak geografis sering membuat komunikasi tidak berjalan optimal. Banyak kasus di mana spesifikasi barang tidak sesuai, kualitas menurun, atau bahkan supplier tidak bertanggung jawab setelah pembayaran dilakukan.

Tanpa pengecekan latar belakang supplier, kontrak yang jelas, dan sistem komunikasi yang rapi, risiko menerima barang yang tidak sesuai menjadi sangat tinggi. Kesalahan ini dapat berujung pada kerugian finansial dan hilangnya waktu.

3. Salah Menghitung Total Biaya Impor (Landed Cost)

Banyak pelaku usaha hanya menghitung harga barang dan ongkos kirim awal, lalu mengabaikan komponen biaya lain yang muncul selama proses impor. Padahal, biaya impor mencakup berbagai elemen seperti bea masuk, PPN, biaya pelabuhan, handling, storage, hingga biaya tambahan jika terjadi pemeriksaan fisik.

Kesalahan perhitungan landed cost membuat harga jual produk menjadi tidak realistis. Saat barang tiba, margin keuntungan tergerus atau bahkan berubah menjadi kerugian. Ini adalah kesalahan klasik yang sering dialami importir yang belum berpengalaman.

4. Mengabaikan Pentingnya HS Code yang Tepat

HS Code memegang peran krusial dalam proses impor karena menjadi dasar penentuan tarif bea masuk, PPN, serta ketentuan regulasi lain yang melekat pada suatu barang. Kesalahan dalam klasifikasi HS Code, baik karena kurangnya riset mendalam, asumsi pribadi, maupun sekadar menyalin kode dari importir lain, sering kali terjadi dan dianggap sepele, padahal dampaknya sangat signifikan.

Penggunaan HS Code yang tidak tepat dapat memicu koreksi nilai pabean oleh pihak bea cukai, yang berujung pada kekurangan pembayaran pajak, denda administrasi, hingga pemeriksaan lanjutan terhadap dokumen impor. Dalam kondisi tertentu, proses clearance bisa tertunda cukup lama karena diperlukan klarifikasi teknis dan penyesuaian dokumen. 

Selain menimbulkan kerugian finansial dan tambahan biaya, kesalahan HS Code juga berpotensi memengaruhi rekam jejak importir di mata regulator, yang dapat berdampak pada pengawasan lebih ketat pada proses impor berikutnya.

5. Tidak Memahami Regulasi dan Perizinan yang Berlaku

Regulasi impor di Indonesia tidak bersifat statis. Beberapa jenis barang memerlukan izin khusus, sertifikasi, atau memenuhi standar tertentu. Kesalahan umum yang sering terjadi adalah mengimpor barang tanpa mengecek regulasi terbaru.

Akibatnya, barang bisa tertahan di pelabuhan karena tidak memenuhi persyaratan, atau bahkan tidak dapat dikeluarkan sama sekali. Kondisi ini tentu merugikan karena biaya terus berjalan sementara barang tidak bisa dimanfaatkan.

6. Mengabaikan Manajemen Waktu dan Jadwal Pengiriman

Banyak pelaku usaha tidak memasukkan faktor waktu sebagai bagian penting dalam perencanaan impor. Mereka berasumsi bahwa barang akan tiba sesuai estimasi awal tanpa hambatan. Padahal, keterlambatan bisa terjadi karena berbagai faktor, seperti kepadatan pelabuhan, cuaca, atau proses clearance yang memakan waktu lebih lama.

Kesalahan ini berdampak langsung pada manajemen stok dan kepercayaan pelanggan. Terutama bagi bisnis yang bergantung pada momentum tertentu, keterlambatan pengiriman bisa berujung pada hilangnya peluang penjualan.

7. Tidak Menyiapkan Mitigasi Risiko dan Rencana Cadangan

Impor yang sehat seharusnya disertai dengan perencanaan risiko. Sayangnya, banyak importir tidak menyiapkan rencana cadangan jika terjadi kendala, seperti keterlambatan, kenaikan biaya, atau masalah kualitas barang.

Tanpa mitigasi risiko, satu masalah kecil dapat berkembang menjadi krisis yang mengganggu keseluruhan operasional bisnis. Kesalahan ini sering muncul karena fokus hanya pada proses awal, bukan pada skenario terburuk yang mungkin terjadi.

8. Terlalu Mengandalkan Impor Mandiri Tanpa Pendamping Profesional

Keinginan untuk menekan biaya sering membuat pelaku usaha memilih mengurus impor sendiri sepenuhnya. Namun tanpa pengalaman dan pemahaman teknis, impor mandiri justru berpotensi menimbulkan biaya lebih besar akibat kesalahan yang seharusnya bisa dihindari.

Kesalahan ini bukan berarti impor mandiri selalu salah, tetapi tanpa dukungan pihak yang berpengalaman, risiko kesalahan administratif, teknis, dan finansial menjadi jauh lebih tinggi.

Tips Jitu Impor Barang dari China ke Indonesia

Agar proses impor berjalan lebih aman, efisien, dan tidak mengganggu arus bisnis, berikut beberapa tips jitu yang perlu diperhatikan sejak tahap perencanaan hingga barang diterima.

  • Pastikan supplier telah diverifikasi secara menyeluruh untuk meminimalkan risiko kualitas dan ketidaksesuaian barang.
  • Hitung total biaya impor secara realistis dengan memasukkan seluruh komponen landed cost sejak awal.
  • Gunakan HS Code yang tepat agar perhitungan bea masuk dan pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  • Pahami regulasi dan perizinan impor terbaru sebelum melakukan pemesanan barang.
  • Siapkan jadwal impor yang fleksibel dengan memperhitungkan potensi keterlambatan pengiriman.
  • Dokumentasikan seluruh proses dan komunikasi sebagai bukti jika terjadi kendala di kemudian hari.
  • Pertimbangkan menggunakan jasa impor profesional untuk memastikan proses berjalan aman, transparan, dan terkontrol.

Kesalahan dalam proses impor barang dari China ke Indonesia sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya niat atau keseriusan, melainkan karena kompleksitas proses yang memang membutuhkan pengalaman dan ketelitian tinggi. Mulai dari perhitungan biaya, kelengkapan dokumen, hingga kepatuhan terhadap regulasi, setiap detail memiliki dampak langsung terhadap kelancaran dan profitabilitas bisnis. Tanpa pengelolaan yang tepat, kesalahan kecil dapat berkembang menjadi hambatan besar yang menguras waktu, biaya, dan energi.

Di sinilah peran jasa impor profesional menjadi krusial. Dengan pendampingan yang tepat, proses impor dapat dijalankan secara lebih aman, transparan, dan terukur, sekaligus meminimalkan risiko kesalahan yang sering merugikan pelaku usaha. Alih-alih disibukkan dengan urusan teknis dan ketidakpastian, Anda dapat fokus mengembangkan bisnis, menjaga arus kas tetap sehat, dan merancang strategi pertumbuhan jangka panjang. 

Dalam iklim persaingan yang semakin ketat, keputusan untuk mempercayakan proses impor kepada ahlinya bukan sekadar pilihan praktis, melainkan langkah strategis untuk memastikan bisnis berjalan stabil dan berkelanjutan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kontak

📧 Email : admin@agungtranssolusindo.com
💬 Whatsapp : +62 812-9261-5989
☎️ No Telp : 021 22606783
© 2025 A-Trans. All rights reserved.